Dinding Tua

Published April 13, 2012 by uminjapan

Ada dua orang pasien yang menderita sakit parah. Mereka dirawat dirumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk ditempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan. Tempat tidurnya terletak didekat satu-satunya jendela yang ada dikamar itu. Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan telentang. Karena diantara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang telentang tidak bisa melihat ke jendela.

Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan. Sore hari itu, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.

Pria yang hanya bisa telentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap kesebuah taman. Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya. pasangan muda yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.

Pria yang berada di dekat jendela menceritakan semua ini dengan amat rinci. Pria yang mendengarkan, menutup matanya sambil membayangkan pemandangan-pemandangan yang dituturkan rekannya. Di suatu hari yang cukup terik, pria yang menempati tempat tidur dekat jendela melaporkan tentang sebuah pawai yang lewat disana. Pria yang kedua tidak bisa mendengar musik bandnya. Namun, dia bisa melihat mereka dengan mata batinnya. Ia seakan melihat badut-badut yang menari-nari, bendera yang berwarna-warni serta mobil dan kuda yang dihias.

Hari pun berlalu. Di dalam hati pria yang tidak bisa melihat ke jendela diam-diam timbul rasa iri atas cerita-cerita yang disampaikan oleh teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci temannya dan merasa frustasi. Dia juga ingin menempati tempat tidur di dekat jendela itu.

Pada suatu pagi seorang juru rawat masuk ke kamarnya. Pria yang ditempatkan di dekat jendela ditemukan meninggal dengan tenang pada saat tidur. Dengan rasa sedih dia memanggil pegawai rumah sakit untuk memindahkan jenazahnya.

Setelah dianggap tepat waktunya, pria yang masih dirawat menanyakan apakah dia bisa dipindahkan ketempat tidur dekat jendela. Perawat tidak berkeberatan untuk memindahkannya dan setelah yakin pasiennya sudah dalam posisi yang aman, dia meninggalkannya sendirian. Pelan-pelan, sambil menahan rasa sakit, dia berupaya mengangkat tubuhnya dengan satu siku lengannya untuk melihat pertama kalinya dunia di luar jendela. Ia pikir, akhirnya dia bisa juga menikmati kebahagiaan saat melihat taman diluar serta semua kegiatan yang ada. Dia berusaha melongok.

Namun ia menjadi amat terkejut karena ternyata yang dilihatnya hanya dinding yang kosong. Dia segera memanggil suster dan bertanya,”bagaimana teman sekamar saya bisa melihat semua yang diceritakannya pada saya? Bagaimana dia bisa menceritakan kepada saya tentang segala keindahan sampai yang sekecil-kecilnya, padahal saya hanya melihat dinding batu bata yang kusam!”

Perawat itu menjawab,” lho, memang Bapak tidak tahu? Mantan teman sekamar Bapak kan buta, jadi dinding pun tidak mungkin bisa dilihatnya”. Kemudia sang perawat menambahkan, “mungkin dia hanya ingin membesarkan hati Bapak saja”

Apakah pernah terpikir oleh anda untuk menukar posisi anda dengan posisi orang lain karena merasa iri dengan orang tersebut. Apakah anda pernah merasa demikian kecewa, misalnya anda menyangka sesuatu itu begitu indah, tetapi kenyataanya tidak seperti yang anda bayangkan?

Kalau hidup anda terobsesi oleh segala yang dimiliki orang lain, maka anda tidak bisa merasakan indahnya hal-hal yang akan diberikan oleh orang lain kepada anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: