Menulis dengan Pena Allah

Published Mei 5, 2009 by uminjapan

Assalamu`alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Saudaraku…

Maha suci ALLAH, yang telah menitipkan nafas di hari ini, Alhamdulillah kita bisa beraktivitas untuk menggapai cita dan harapan, maraih kemenangan sejati dengan hidup mulya di jalanNYA dan insya ALLAH meninggal dunia dengan husnul khotimah..Aamiin..

Saudaraku..

Ketika saya mulai belajar menulis, maka yang terbesit dalam pikiran ini adalah bagaimana saya bisa membawa diri ini dan saudaraku untuk mengenal pemilik jiwanya hingga mampu mengobati kerinduan kepada ALLAH, namun karena masih belajar maka masih banyak kekeliruan dalam menarikan jari jemari ini dan kekurangan dalam isi yang disampaikannya…🙂

Harus saya akui bahwa tulisan ini terkadang riya [astaghafirullah ], terkadang narsis [nauzubillahimindzalik] dan tulisan ini juga terkadang penuh dengan canda yang gak penting🙂 , tetapi satu hal yang saya coba hindari ketika menulis adalah membawa diri dan pembaca ke jalan yang sesat. Saya berlindung agar hal itu jangan sampai terjadi. Insya ALLAH 🙂

Kembali, bahwa menulis untuk mencapai ridho ALLAH akan dapat mendekatkan diri kita kepada ALLAH sang pemilik segala galanya, dan insya ALLAH akan membuat ALLAH mencintai kita, tak ada cinta yang lebih indah dari cintanya ALLAH bukan? dan betapa penuh kasihnya ALLAH ketika satu tulisan kita mampu menolong seorang hamba, maka pertolongan ALLAH akan datang untuk kita [subhanallah.. maha suci ALLAH SWT ]

Menulislah untuk membuat pembaca mengingat ALLAH, menulislah untuk membuat pembaca mencintai ALLAH melebihi cinta kepada semua yang masih bernaung dibawah matahariNYA, menulislah karena ALLAH… berbagi informasi, mensyiarkan ilmu, menebar kasih sayang dengan tulisan.

Menulislah seperti Syaikh Ibnul Qoyyum Al Jauziyah menulis. Menulis untuk mengangungkan ALLAH, menulislah seperti Imam Syafi`i dan lihatlah lelaki yang satu ini sepanjang hari ia berdakwah. Dari sejarah mencatatnya bahwa pada saat umurnya belum genap 20 tahun tapi bila malam tiba, malampun ia bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk ibadah, sepertiga untuk MENULIS, dan sepertiga lagi untuk istirahat. Itulah dia Imam Syafi’I muda.🙂

Maaf,..ketika kita menulis tentang p*rn*graphi, pernahkah kita berpikir berapa pasang mata yang kita sesatkan, pernahkah kita berpikir berapa jiwa yang terbuai oleh angan angan penuh maksiat ketika kita membaca cerita tentang keringat yang mengucur deras, ah tak sanggup saya ketika mengingat dosa yang harus saya pikul jika itu saya lalukan. ya ALLAH lindungi diri ini dari semua yang akan menyesatkanku dan saudara-saudaraku…

Lihatlah Buya Hamka yang tulisannya sangat romantis, ketika menatap bulan beliau menulis, ketika jatuh cinta beliau menulis, ketika cemburu beliau menulis, ketika patah hati beliau menulis, ketika menangis beliau menulis dan ketika mengingat ALLAH tulisannya akan berubah menjadi embun, ketika semangatnya berkobar maka tulisannya akan menjadi matahari, dan ketika hujan maka tulisannya akan menyejukan bumi.

Dan buatlah tulisan kita bak pena yang membuai diri dan pembaca untuk bercermin akan kesalahan diri dan buatlah tulisan kita bak ayunan yang membuai diri dan pembaca untuk mencintai ALLAH … yang pasti saya belum mampu membuai pembaca.😦

Yok, kita liat lagi tulisan tulisan kita, sudah adakah ilmu yang terbagi? sudah tidak menyesatkan pembaca kita kah tulisan kita? baca lagi dan baca lagi, tanya dan tanya lagi ke hati nurani kita, jika tulisan kita ini salah , tanya jiwa kita sanggupkan kta menanggung dosa karena mata yang kita suguhi kemaksiatan, sanggupkan kita menanggung dosa karena sekian ratus jiwa yang membaca akan bermaksiat setelahnya [nauzubillahimindzalik]🙂

Menulislah dalam pena ALLAH … mempesona dan indah, berilmu dan tak menyesatkan [insya ALLAH]

Tiga orang yang selalu mendapatkan pertolongan ALLAH tiada henti-hentinya adalah mujahid yang membela agama ALLAH, PENULIS yang mencerahkan, dan pemuda yang menyegerakan menikah untuk menjaga kehormatan diri. (HR Ahmad)

Allahumma inni as aluka hubbaka wa hubba mayyuhibbuka wal’amalalladzii yuballighunii hubbaka, [wahai ALLAH saya mohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta perbuatan yang mengantarkan saya untuk mencintaiMu. (HR At Tarmidzi)

Wassalamu`alikum..Warohmatullohi, Wabarokatuh

Asep Saepudin, Nagoya, Japan..

%d blogger menyukai ini: